Contributor : Galih Dea | Date : 2019-11-22
Dengan menjamurnya penggunaan internet di masa kini, makin banyak inovasi yang digelontorkan oleh para perusahaan dari berbagai lini bisnis. Salah satu inovasi yang muncul dan sudah menjadi tren adalah keberadaan dari berbagai streaming service, seperti Netflix, Spotify, dan lain sebagainya. Namun, seringkali perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri ini mengalami kerugian, seperti yang dialami oleh Netflix dan Spotify, terlepas dari fakta bahwa dua streaming service ini memiliki keuntungan dan basis pengguna terbesar di dunia.
Streaming service sendiri adalah layanan yang ditawarkan bagi pengguna untuk menikmati konten-konten multimedia tanpa harus mendownload, dengan bermodalkan koneksi internet. Konten-konten yang ditawarkan pun beragam, mulai dari musik, video, game, dan lain sebagainya. Saat ini, sudah banyak streaming service yang tersedia untuk pengguna internet. Di musik sendiri terdapat streaming service seperti Spotify, Joox, Apple Music, dan yang terbaru adalah YouTube Music yang merupakan spiritual successor dari Google Play Music. Selain musik, streaming service yang berfokus pada konten video pun juga sudah mulai menjamur, seperti Netflix, Hulu, Amazon Prime Video, dan yang terbaru adalah Disney+. Dengan hadirnya streaming service, pengguna akan lebih mudah untuk menikmati konten-konten multimedia yang mereka inginkan, tanpa harus mengunduh file multimedia tersebut ke perangkat mereka.
Netflix adalah salah satu streaming service yang berfokus pada konten-konten multimedia berbentuk video, seperti film, TV series, special show, dan lain sebagainya. Saat ini, Netflix tercatat sebagai video streaming service nomor satu di dunia, baik dari segi keuntungan, maupun dari basis penggunanya, yang semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini. Akan tetapi, Netflix sendiri masih mengalami kerugian.
Alasan utamanya adalah demi penyediaan konten dalam Netflix. Untuk menyediakan beragam konten, Netflix mengucurkan banyak dana, yang jumlahnya triliunan rupiah. Penyedia konten dari Netflix pun terbilang banyak, mulai dari NBC, Warner Bros., sampai Disney pun telah memberikan beberapa kontennya, dan Netflix harus membayar kepada para penyedia konten ini untuk mendapatkan hak penyiaran dari konten tersebut di Netflix, dengan biaya yang cukup besar.
Selain demi konten, penyedia konten-konten dari Netflix ini mulai membuat streaming service nya sendiri, seperti Disney dengan Disney+ nya, dan Warner Bros. dengan HBO Max yang akan dirilis pada tahun 2020. Oleh karena itu, penyedia konten ini mulai menarik konten-konten miliknya di Netflix supaya dapat ditayangkan secara eksklusif di streaming service milik mereka sendiri.
Sebagai cara untuk mengatasi konten-konten yang mulai ditarik ini, Netflix mencari-cari cara untuk memperkaya konten-konten mereka, yaitu dengan menyediakan konten-konten eksklusif yang hanya bisa ditonton melalui Netflix. Tidak hanya itu, konten-konten ini juga harus bagus supaya dapat menarik minat calon pengguna Netflix. Dan saat ini, sudah terdapat lebih dari seribu konten eksklusif dari Netflix, seperti Stranger Things, 13 Reasons Why, House of Cards, Sense8, dan lain sebagainya.
Selain Netflix, Spotify pun juga mengalami hal yang sama, yaitu kerugian yang membengkak setiap tahunnya. Padahal, Spotify tercatat sebagai streaming service di bidang musik dengan basis pengguna berbayar terbesar, mengalahkan Apple Music. Saat ini, untuk penyediaan konten musiknya, Spotify bekerjasama dengan berbagai label rekaman untuk meminta hak untuk memasukkan berbagai musik ke dalam Spotify. Oleh karena itu, Spotify harus mengeluarkan banyak uang supaya musik-musik dari label rekaman tersebut dapat terus diputar di Spotify.
Apabila Spotify ingin mendapatkan laba dan mengurangi kerugian, Spotify bisa saja memproduksi musik sendiri tanpa bergantung dengan label. Namun, sepertinya hal tersebut tidak akan dilakukan dalam waktu dekat karena pihak Spotify sendiri tidak memandang Spotify sebagai semacam label rekaman. Sebagai solusi, Spotify mulai memproduksi konten-konten non musik yang eksklusif di Spotify, seperti podcast. Spotify saat ini mulai memproduksi beberapa podcast ekskusif setelah Spotify mengakuisisi Anchor sebagai salah satu penyedia podcast.
Skema langganan student plan dan family plan dianggap sebagai pendongkrak keberhasilan Spotify bangkit dari jurang kerugian selama beberapa tahun terakhir. Tercatat pada Q3 2019 Spotify berhasil mencetak laba operasional sebesar 841 miliar rupiah (60 juta USD).
Dengan hadirnya berbagai solusi ini, semoga industri streaming service dapat menjadi industri yang menguntungkan, baik dari pengguna, maupun para pelaku bisnisnya.
Sumber Berita:
"How Netflix Makes Money" - investopedia.com
"Spotify's podcast strategy is starting to pay off" - engadget.com
"Why Spotify Will Never Make Money" - fortune.com
"Spotify Punya 248 Juta Pengguna Aktif Bulanan di Q3 2019" - tek.id
Sumber Gambar:
"Man Arrested for Selling Netflix & Spotify Passwords" - eteknix.com
Tags :
spotify, netflix, streaming service, internet, multimedia