Contributor : Galih Dea | Date : 2019-12-16
Hadirnya website telah memudahkan kehidupan manusia yang semakin beragam karena adanya internet. Walaupun begitu, website saat ini dianggap kurang efisien, mengingat pengguna perangkat mobile saat ini sudah menjamur, terutama pada pengguna smartphone, baik yang berbasis Android maupun iOS. Dan sebagai alternatif, hadir mobile app yang dapat berjalan bersama dengan website.
Mobile app sendiri merupakan aplikasi yang dapat berjalan di satu atau lebih perangkat mobile. Jadi, apapun bentuk aplikasinya, apabila dapat dijalankan pada perangkat mobile, maka aplikasi tersebut dapat disebut sebagai mobile app. Namun, terdapat tiga jenis mobile app yang banyak dikembangkan oleh berbagai mobile app developer, yaitu web app, native app, dan hybrid app.
Yang pertama adalah web app. Web app adalah mobile app yang dasarnya adalah website yang berjalan pada perangkat mobile. Pengembangan web app ini sama seperti website pada umumnya, dengan menggunakan bahasa pemrograman web seperti HTML, CSS, JavaScript, maupun PHP. Layaknya website, web app ini hanya dapat dijalankan melalui web browser pada perangkat mobile. Perbedaan mendasar antara web app dan website adalah tampilannya, dimana web app dikondisikan untuk nyaman diakses pada perangkat mobile, sedangkan website dapat dijalankan pada perangkat komputer atau laptop.
Ada beberapa kelebihan dari web app, yaitu dari mudahnya pengembangan web app, karena mengembangkan web app sama dengan mengembangkan website, baik dari penggunaan framework sampai bahasa pemrogramannya; tidak perlu membuat aplikasi untuk platform lain, karena web app ini dapat dijalankan pada setiap platform; dan karena hal tersebut, membuat biaya pengembangan web app lebih murah dibandingkan membangun native app dan hybrid app. Walaupun begitu, tetap saja web app memiliki kekurangan, yaitu batasannya yang hanya bisa dijalankan melalui web browser, performa yang lebih lambat dibanding native app, tampilan antarmuka yang dianggap kurang menarik, tidak dapat dimasukkan ke library dari Mobile App Store, dan web app ini tidak bisa menggunakan fitur-fitur bawaan dari perangkat mobile.
Native app adalah jenis mobile app yang kedua. Native app merupakan jenis mobile app yang dianggap paling umum, karena sering digunakan oleh pengguna berbagai perangkat mobile. Pada dasarnya, native app ini dikembangkan untuk platform tertentu, dan dikembangkan dengan bahasa pemrograman yang eksklusif untuk platform dimana native app tersebut berjalan, misalnya adalah Swift pada iOS dan Java pada Android.
Kelebihan dari native app ini adalah performanya yang cepat, karena hanya berjalan pada satu platform tersebut, tampilan antarmuka yang interaktif, dapat mengakses fitur-fitur bawaan perangkat mobile, seperti membuka file manager atau menyalakan kamera; dan native app ini dapat didistribusikan melalui Mobile App Store yang eksklusif pada platform tertentu. Dibalik kelebihan-kelebihan dari native app tersebut, tentu saja masih ada kekurangannya, yaitu ketersediaan native app yang hanya terbatas pada satu platform, bahasa pemrograman eksklusif yang membuat pengembang harus mempelajarinya untuk dapat mengembangkan native app pada platform tersebut, pemeliharaan native app yang dianggap berat, membuat biaya pengembangan dan pemeliharaannya menjadi lebih mahal.
Sebagai perpaduan antara web app dan native app, datanglah hybrid app sebagai jenis ketiga dari mobile app. Hybrid app ini pada dasarnya adalah web app yang dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman website, namun berjalan pada suatu container dalam native app. Jadi, apabila kita membuka salah satu mobile app, namun didalamnya muncul tampilan layaknya website, itulah yang disebut dengan hybrid app.
Kelebihan dari hybrid app ini merupakan kombinasi dari web app dan native app, dimana dapat dikembangkan dengan bahasa pemrograman web, sehingga hanya memerlukan satu kali pengembangan untuk setiap platform, yang membuatnya lebih murah daripada native app. Selain itu, hybrid app ini tidak memerlukan web browser untuk menjalankannya, dapat pula mengakses fitur bawaan perangkat mobile melalui API (application programming interface), serta dapat dikembangkan dengan lebih cepat ketimbang native app. Layaknya mobile app yang lain, hybrid app tetap menyimpan beberapa kekurangan, yaitu performa yang lebih lambat daripada native app, tampilan antarmuka yang kurang interaktif dibandingkan dengan native app, serta biaya yang lebih mahal daripada web app.
Jadi, sudah tahu kan apa saja jenis-jenis dari mobile app yang sering kalian gunakan? Apabila sudah paham, ayo buatlah mobile app mu sekarang. Masih bingung bagaimana caranya? Tenang, percayakan pengembangan mobile app kamu pada Vantura, Your Brofessional Digital Agency.
Sumber Berita:
"Mobile Apps: Web vs. Native vs. Hybrid" - Traversy Media
Sumber Gambar:
"Native vs Hybrid Mobile Apps - Which is good for your business?" - techpluto.com
Tags :
mobile app, mobile app development, internet, website, mobile, vantura, semarang, indonesia, web app, native app, hybrid app