Contributor : Galih Dea | Date : 2019-11-18
Di era yang serba digital ini, orang-orang mulai menggunakan smartphone untuk mempermudah kehidupan mereka. Dan karena hal tersebut, berbagai perusahaan mulai melakukan berbagai inovasi teknologi yang mereka berikan kepada masyarakat, umumnya dalam bentuk aplikasi web maupun mobile yang bisa dijangkau melalui berbagai gadget yang dimiliki. Perusahaan-perusahaan pembuat berbagai aplikasi juga menetapkan kebijakan mengenai bagaimana aplikasi mereka ingin dihargai. Berdasarkan pemberian harganya, aplikasi terdiri dari tiga kategori, yaitu aplikasi free (atau biasa disebut dengan freeware), aplikasi premium, dan aplikasi freemium.
Aplikasi free, atau lebih dikenal dengan freeware, adalah aplikasi yang didistribusikan tanpa biaya sepeserpun oleh perusahaan pengembang aplikasi tersebut. Oleh karena itu, freeware ini umumnya gratis, dan siapapun yang mengunduh aplikasi tersebut dapat menggunakannya.
Akan tetapi, karena freeware ini tidak dikenakan biaya bagi para penggunanya, perusahaan pengembang aplikasi ini memberikan fitur-fitur yang umum digunakan oleh penggunanya, tanpa menyertakan fitur-fitur tambahan yang dapat menambah pengalaman pengguna ketika menggunakan aplikasi tersebut. Selain itu, freeware cenderung menyelipkan iklan-iklan, yang umumnya digunakan sebagai sarana untuk revenue bagi pengembangnya, namun kemunculannya seringkali mengganggu pengguna, karena iklan-iklan ini tidak bisa ditutup dan pengguna harus melakukan beberapa perintah supaya iklan ini bisa tertutup. Contoh dari freeware adalah LibreOffice dan Avast! Antivirus.
Aplikasi premium adalah kebalikan dari aplikasi freeware, dimana aplikasi ini dikembangkan dan didistribusikan dengan biaya tertentu. Oleh karena itu, apabila pengguna ingin menggunakan aplikasi premium ini, pengguna harus membayar untuk mendapatkan akses penggunaan aplikasi tersebut. Keuntungan dari aplikasi premium ini adalah tidak adanya iklan-iklan yang mengganggu pengalaman pengguna ketika menggunakan aplikasi, serta beberapa fitur-fitur tambahan yang akan menunjang pengalaman pengguna. Aplikasi premium ini umumnya memaksakan pembayaran kepada penggunanya sebelum pengguna mendapatkan akses penuh dari fitur aplikasinya. Sebagian besar dari aplikasi premium adalah aplikasi yang berhubungan dengan multimedia dan entertainment, contohnya adalah Netflix, Skyegrid, dan Adobe Premiere Pro.
Selain aplikasi free dan premium, terdapat satu jenis aplikasi lain, yaitu aplikasi freemium. Aplikasi freemium ini merupakan aplikasi yang free, namun menawarkan opsi premium bagi para penggunanya. Dengan kata lain, pengguna dapat menggunakan aplikasi freemium ini secara gratis dengan limitasi tertentu, namun apabila pengguna ingin mendapatkan fitur lebih dari aplikasi ini, pengguna dapat membayar untuk aplikasi tersebut, baik sekali bayar, maupun dengan berlangganan. Freemium ini sudah menjadi tren, karena mulai banyak pengembangan aplikasi yang menggunakan cara ini untuk mendapatkan revenue lebih dan menggaet berbagai pengguna baru untuk aplikasinya. Contoh aplikasi freemium adalah YouTube, Spotify, dan Tinder.
Dengan hadirnya berbagai jenis aplikasi ini, diharapkan akan muncul berbagai inovasi yang dapat ditawarkan oleh perusahaan pengembang aplikasi, dengan kebijakan harga yang sesuai dengan fitur-fitur yang ditawarkan oleh aplikasi yang dikembangkan.
Sumber Berita:
"Freeware" - whatis.techtarget.com
"Using the Freemium Model" - developer.apple.com
"Free vs Paid Apps: Pros & Cons" - appinstitute.com
Sumber Gambar:
"Game Free vs Premium vs Freemium, Tahu Gak Apa Bedanya?" - styleintech.com
Tags :
digital, era digital, smartphone, aplikasi, web, mobile, freeware, premium, freemium